Pembukaan Haflah Akhirussanah dan Wisuda Angkatan ke-2 Ponpes Aulia Cendekia Pekanbaru; Pentas Seni Jadi Ajang Para Santri Berkreasi

June 14, 2025

|

Humas ACP

Pekanbaru- Dalam tradisi pesantren, kata “Haflah Akhirussanah” sudah tak asing lagi. Secara harfiah/ leterlek, “Haflah” (حفلة) berarti perayaan, sedangkan “Akhirussanah” (آخر السنة) berarti akhir tahun. Jadi, “Haflah Akhirussanah” adalah suatu acara untuk merayakan akhir tahun pelajaran santriwan-santriwati dalam kalender pendidikan.

Pembacaan khotmil Quran oleh santriwan-santriwati kelas 6 Ponpes Aulia Cendekia Pekanbaru, (13/06/25).

Dan di dunia pesantren, Haflah Akhirussanah (dengan nama dan konsep acara yang berbeda-beda) sudah menjadi tradisi yang sifatnya tidak boleh tidak. Tujuan dari haflah bukan untuk euforia, tetapi demi mensyiarkan pendidikan Islam. Dalam Q.S. Al-Hajj ayat 32, Allah SWT berfirman,

ذَٰلِكَ وَمَن يُعَظِّمْ شَعَٰٓئِرَ ٱللَّهِ فَإِنَّهَا مِن تَقْوَى ٱلْقُلُوبِ
“Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul¹ dari ketakwaan hati.”

Sehingga tidak heran, Pondok Pesantren tetap mengadakan Haflah Akhirussanah dan menjadikannya sebagai prioritas setiap tahunnya sebagai pengejawantahan syukur kepada Allah SWT atas karunia suksesnya para santri dalam mengenyam tanggung jawab pendidikan yang telah mereka tuntaskan. Tak terkecuali, Ponpes Aulia Cendekia Pekanbaru yang didirikan dan dipimpin/ diasuh oleh Kiyai Masduki Fadly S.Sos.I.

Pimpinan Ponpes Aulia Cendekia Pekanbaru; Kiyai Masduki Fadly S.Sos.I, memberikan sambutan pada pembukaan Haflah Akhirussanah dan Pentas Seni Ponpes Aulia Cendekia Pekanbaru, (13/06/25)

Ponpes yang memiliki motto, “Religius, Humanis, dan Berprestasi” ini, mengadakan Haflah Akhirussanah yang dimulai pada Jumat malam (13/06/25) dan puncaknya pada Sabtu pagi-siang (14/06/25). Acara dibuka dan diresmikan langsung oleh pimpinan di Halaman Madrasah Ponpes Aulia Cendekia Pekanbaru, Jl. Buana, Sidomulyo Barat, Tuah Madani, Kota Pekanbaru ba’da Maghrib.

Setelah itu, acara dilanjutkan dengan pembacaan Khotmil Quran dari Surah Ad-Dhuha sampai An-Naas yang dibacakan oleh angkatan kelas akhir yang terdiri dari kelas VI A, B & C. Tiga orang secara bergantian membaca setiap surah, sesuai arahan dari mentor mereka; Ust. Khoirun S.Sos.

Adzan Isya berkumandang, mereka jeda sejenak lalu melanjutkan empat Surah terakhir yang belum dibaca. Setelah itu, mereka menyelesaikan bacaannya dan melangsungkan shalat Isya berjamaah di Masjid Al-Muhajirin. Selesai shalat dan zikir, lalu Khotmil Quran ditutup dengan doa oleh Ust. Muhammad Ali Al-Hafidz.

Pentas Seni; Unjuk Kreasi dan Pesan Moral dari Para Santri

“Jika seni ingin memelihara akar budaya kita, masyarakat harus membebaskan seniman untuk mengikuti visinya ke mana pun ia membawanya.”  begitulah kata presiden ke-35 Amerika Serikat; John F. Kennedy. Setelah Khotmil Quran selesai, pentas seni menjadi ajang para santri berkreasi. Seni yang ditampilkan bervariasi, mulai dari yang bernuansa musik, tari, hingga drama.

Setidaknya, ada dua belas varian seni yang ditampilkan. Mulai dari drama musikal yang dipersembahkan oleh kelas 1 yang dimentori oleh Ummi Maria Ulfa S.Pd. & Ummi Messa Septia S.Pd., tari Nusantara (kelas 4), paduan suara berupa lantunan shalawat (kelas 2), pantomim (kelas 4), tarian Minangkabau (kelas 2), pidato kelas 3, nasyid kelas 3 & 5 yang dilatih oleh Ust. Edo Aprialdi, S.Pd., tari kreasi Arabic Medley (kelas 3, mentor: Ummi Ulfa Khoiriyah, S.Pd.), tari Zapin (Kelas 4), drama Bahasa Arab (kelas 5) dan Hadrah Shalawat oleh kelas 5 & 6.

Meminjam quotes dari seorang kritikus seni asal Inggris, John Ruskin “Ketika cinta dan keterampilan bekerja bersama, harapkan sebuah mahakarya.” 

Gabungan anak-anak delegasi dari kelas 1 A, B & C dalam penampilan seni drama musikal.

Para penonton yang terdiri dari para wali murid, undangan, hingga masyarakat umum dibuat kagum oleh mereka. Sorak-sorai gembira dan tepuk tangan tampak mewarnai keseruan acara.

Memukau: penampilan anak didik Ummi Ulfa Khoiriyah S.Pd.

Hadirin terlihat sumringah melihat keseruan penampilan para santri yang kreativitasnya bikin geleng-geleng kepala. Bahkan pimpinan Ponpes pun sangat menikmati acara yang ditampilkan. Seluruh penampilan kesenian beliau saksikan tanpa beranjak sedikitpun.

Pimpinan Ponpes tersenyum menikmati serunya penampilan kesenian dari para santri.

Pelbagai bentuk penampilan di atas, tentu saja tidak sekedar mejadi hiburan semata. Lebih dari itu, pesan moral adalah tujuan utamanya.

Charles Bukowski berkata (seorang penyair dan penulis) mengatakan, “Seorang intelektual mengatakan hal yang sederhana dengan cara yang sulit. Seorang seniman mengatakan hal yang sulit dengan cara yang sederhana.”

Para santri dengan tanpa menguraikan dalil-dalil agama, pemaparan terkait kearifan lokal dan budaya, mereka mampu menyampaikan pesan moral secara tersisa kepada para pemirsa.

Salah satu pesan moral yang membuat kita semua mengambil ibrah atau pelajaran adalah drama dalam dialog Bahasa Arab yang dipersembahkan oleh kelas 5. Berikutnya dialognya:

الشر بالشر

Kejahatan akan dibalas kejahatan

كَانَ وَلَدٌ فَقِيرٌ جَالِسًا فِي الطَّرِيقِ يَأْكُلُ خُبْزًا. فَرَأَى كَلْبًا نَائِمًا عَلَى بُعْدٍ. فَنَادَاهُ وَمَدَّ لَهُ يَدَهُ بِقِطْعَةٍ مِنَ الْخُبْرُ. حَتَّى ظَنَّ الْكَلْبُ أَنَّهُ سَيُعْطِيهِ مِنْهُ لُقْمَةً . فَقَرُبَ مِنْهُ لِيَتَنَاوَلَ الْخُبْزَ فَضَرَبَهُ الصَّبِيُّ بِالْعَصَا عَلَى رَأْسِهِ. فَفَرَّ الْكَلْبُ وَهُوَ يَعْوِى مِنْ شِدَّةِ الْأَلَمِ. وَفِي ذَلِكَ الْوَقْتِ كَانَ رَجُلٌ يُطِلُّ مِنْ شُبَاكِهِ. وَرَأَى مَا فَعَلَ الصَّبِيُّ. فَنَزَلَ إِلَى الْبَابِ وَمَعَهُ عَمَّا خَبَاهَا وَرَاءَهُ. وَنَادَى الصَّبِيَّ وَأَبْرَزَ لَهُ قِرْشًا. فَأَسْرَعَ الصَّبِيُّ وَمَدَّ يَدَهُ لِيَأْخُذَ الْقِرْشَ. فَضَرَبَهُ الرَّجُلُ بِالْعَصَا عَلَى أَصَابِعِهِ . ضَرْبَةً جَعَلَتْهُ يَصْرَخُ أَكْثَرَ مِنَ الكلب.ثُمَّ قَالَ لِلرَّجُلِ : لِمَ تَضْرِبُنِي وَأَنَا لَمْ أَطْلُبُ مِنْكَ شَيْئًا”.فَأَجَابَهُ الرَّجُلُ : وَلِمَ تَضْرِبُ الْكَلْبَ وَهُوَ لَمْ يَطْلُبْ مِنْكَ شَيْئًا. فَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةً مِثْلُهَا.

Ada seorang anak yang fakir sedang duduk di jalanan sedang memakan sebuah roti. Kemudian, dari kejauhan, anak kecil tadi melihat seekor anjing yang sedang tertidur. Anak kecil tadi memanggil anjing itu dengan (berlagak) akan memberikan potongan roti yang ia makan, sehingga si anjing mengira bahwa anak kecil itu akan memberinya.

Mendekatlah si anjing untuk memakan roti yang diberikan. Tak disangka-sangka, anak kecil itu justru memukul kepala si anjing menggunakan kayu. Maka berlarilah si anjing sambil menggonggong karena kesakitan.

Ketika itu, ada seorang pemuda melihat apa yang telah dilakukan anak kecil tadi dari jendela. Pemuda itu turun dari rumahnya dengan kayu yang ia sembunyikan di belakangnya. Kemudian ia memanggil anak kecil tersebut dengan (berlagak seakan) memberinya uang. Maka bersegeralah anak kecil tadi dan menjulurkan tangannya untuk mengambil uang tersebut. Dengan tiba-tiba, pemuda tersebut memukul jari anak kecil tersebut dengan kayu. Pukulan tersebut membuatnya sakit, dan lebih sakit dari apa yang dilakukannya kepada anjing.

Maka berkatalah anak kecil tersebut kepada pemuda “mengapa Kamu memukulku, sedangkan Aku tidak meminta sesuatu darimu?!”

“Mengapa Kamu memukul anjing tadi, sedangkan ia tidak meminta sesuatu darimu?!Inilah balasan yang engkau terima!” jawab sang pemuda.

Melalui pentas seni inilah, Ponpes Aulia Cendekia Pekanbaru membuktikan bahwa stigma negatif perihal sistem pendidikan pesantren itu jumud, kolot dan eksklusif: adalah tuduhan tanpa landasan. Sekali lagi, Ponpes ini menyatakan bahwa: pesantren adalah sistem pendidikan yang terbuka dan tolerir terhadap segala budaya, tradisi dan segala bentuk pembaharuan, selama hal itu tidak bertentangan dengan nilai-nilai dan prinsip yang dijunjungnya.

(Kantor Ponpes Aulia Cendekia Pekanbaru, 13/06/25)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *