Tepat pada hari ini (30 Agustus 2025), Jam’iyyah Perempuan Pengasuh Pondok Pesantren dan Mubalighoh atau lebih dikenal dengan JP3M ulang tahun yang ke-9 (30 Agustus 2016).

JP3M adalah suatu organisasi sosial keagamaan Islam independen yang berdasarkan faham Ahlusunnah Wal Jamaah dengan mengedepankan silaturahim (mempererat kasih sayang) dan ukhuwah (persaudaraan). Gagasan terbentuknya JP3M adalah hasil sebuah pemikiran antara para Nyai Pengasuh Pondok Pesantren dan Muballighoh (dai perempuan) yang mempunyai tujuan membuat wadah ukhuwah Islamiyah antar Pengasuh dan Muballighoh untuk menyatukan visi-misi ilmiyah salafiyah (keilmuan salaf) ‘ala (berdasarkan) Ahlusunnah Wal Jama’ah. Pada awalnya, JP3M diprakarsai oleh Bu Nyai Pengasuh Pesantren dan Muballighoh dari kabupaten Magelang, Temanggung, Semarang, dan Kendal. Mereka adalah Nyai Aufilana Uswatun Khasanah Magelang, Nyai Hj. Hannik Maftukhah Afif Temanggung, Nyai Hj Umi Maesaroh Hasyim Semarang, dan Nyai Mutmainah Kendal.
Dari musyawarah mereka, berdirilah JP3M di PP. Darussalam Limbangan Kendal pada tanggal 8 Maret 2016 untuk waktu yang tidak terbatas. Setelah diadakannya Harlah JP3M ke 1 di PP Sirojurrokhim Temanggung pada tanggal 30 Agustus 2016, sekaligus peresmian JP3M yang dihadiri oleh KH. Abdul Ghofur Maemun (Gus Ghofur) PP. Al-Anwar 3 Sarang Rembang, KH Yusuf Chudhori PP API Tegalrejo Magelang, KH Sholahuddin PP APIK Kaliwungu Kendal dan Kyai lainnya, serta para Nyai – Nyai wilayah Jawa Tengah. Respon terus berkembang dari berbagai kabupaten se Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Kemudian dilanjutkan pembentukan pengurus JP3M di PP Darussalam Secang Magelang yang diantaranya dihadiri oleh Ny Hj Nur Hannah Dalhar dari Watucongol Magelang, Ny Hj Sa’adah Chalwani dari Purworejo, Ny Hj Fitri Afif dari Kebumen, Ny Hj Nadzirah Aly Qoishor dari Magelang, Ny Hj Afwah Mansur dari Magelang, Ny Hj Hasyimah Muna dari Magelang, Ny Hj Asmanah Faqih dari Semarang, Ny Hj Wardah Shomitah dari Cilacap, Ny Hj Afifah Tamam dari Kebumen, Ny Hj Maunah dari Demak, Ny Khoiriyatik dari Salatiga, Ny Hj Suroh Nafisah dari Yogyakarta, Ny Habibah dari Temanggung, Ny Hj Asniyah Syamsul Ma’arif dari Kendal dan Ny Musyarofah dari Kendal dan lain – lain.
Dalam pertemuan tersebut, dihasilkan keputusan-keputusan penting yang bermuara pada perluasan peran positif para Bu Nyai kepada masyarakat, baik di bidang pendidikan, sosial, maupun ekonomi.
Kontemplasi Ceramah Bu Nyai Ketum di Ponpes Aulia Cendekia Pekanbaru
Pondok Pesantren Aulia Cendekia Pekanbaru adalah kantor sekretariat JP3M Provinsi Riau dengan Bu Nyai Ngatini, S.E. (istri dari pimpinan Ponpes; Kiyai Masduki Fadly, S.Sos.I) sebagai sekjendnya. Sebagai sekretariat dan sang Bu Nyai merupakan tokoh sentral di JP3M Provinsi Riau, tak heran jika Pondok Pesantren Aulia Cendekia Pekanbaru mengundang Ketum JP3M Pusat pada Perayaan Haflah Akhirussanah (14-15) Juni lalu sebagai penceramah pada acara tersebut.

Rumput bukan sembarang rumput
Rumput pilihan untuk rumah
Jemput bukan sembarang jemput
Jemput bermadah menyampaikan tausiyah
Acara selanjutnya Mauidzah Hasanah. Kepada Nyai Hanik Maftukhah Afif Al-Hafidzah, kami persilahkan. Ungkap MC.

Ibu Nyai Hanik pun menaiki panggung acara, sembari diiringi dengan lagu “Man Ana Lau Laa Kum?” oleh Tim Hadrah Sobat Ngopi.
Pasca salam dan basmalah, Ibu Nyai Hanik membuka pidatonya,
الحمد لله الذي أنعم علينا بنعمة الإيمان والإسلام، والصلاة والسلام على سيدنا محمد سيد العرب والعجم، وعلى آله وأصحابه ينابيع العلوم والحكم.
“Segala puji bagi Allah yang telah memberi nikmat bagi kita semua, berupa nikmat Iman dan Islam.” Tak lupa, beliau juga bershalawat dan sighat (redaksi) shalawat yang beliau pakai adalah shalawat yang ada dalam Muqaddimah (Prolog) Kitab Ta’lim Al-Muta’allim, karya Syeikh Burhanuddin Az-Zarnuji,
والصلاة والسلام على سيدنا محمد سيد العرب والعجم، وعلى آله وأصحابه ينابيع العلوم والحكم.
“Shalawat (rahmat Allah yang disertai ta’zim) dan salam semoga tercurah limpahkan kepada junjungan kita; Nabi Muhammad SAW, junjungan orang Arab dan Non Arab, beserta kepada para keluarga dan sahabatnya; mata air ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan.” Sebelum menjabarkan materi tausiahnya lebih lanjut, Bu Nyai Hanik tak lupa untuk memberikan penghormatan kepada seluruh hadirin dan tamu undangan, wa bil khusus tuan rumah; Romo Kiyai Masduki Fadly, S.Sos.I dan Ibu Nyai Ngatini S.E. serta para Ibu Nyai dari organisasi yang beliau pimpin; JP3M (Jamiyah Perempuan Pengasuh Pesantren dan Muballighah).
“Para bapak-bapak, ibu-ibu dan hadirin Rahimakumullah. Pada era globalisasi seperti ini, nuansa di luar tak seindah yang kita bayangkan. Betul?”
“Betul” Jawab para hadirin.
Bu Nyai Hanik melanjutkan,
“Ahmdulillah! Di era seperti ini, Pondok Pesantren menjadi satu-satunya lembaga pendidikan Islam yang akan melahirkan generasi shalih-shalihah, muthi’-muthi’ah, calon-calon ahli surga. Allahumma, Amin. Maka dari itu, bapak dan ibu tidak salah memilih lembaga pendidikan yaitu Ponpes Aulia Cendekia untuk mengkader anak-anaknya sebagai generasi penerus bangsa dan calon-calon penghuni surga. Amin, Allahmmu Amin.”
Sesuai dengan acara yang bermomentum kelulusan dan apreasiasi atas capaian pendidikan para santriwan-santriwati, Nyai Hanik mendalilkan pembahasan tausiahnya dengan membacakan firman Allah yang berbunyi,
وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا (سورة الفرقان الآية 74)
Dan orang orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai permata hati kami, dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (Q.S. Al-Furqan:74)
Ibu Nyai Hanik melanjutkan, قُرَّةَ أَعْيُنٍ itu maknanya adalah pelita hati. Dengan melihat anak-anak kita shalih-shalihah, taat, berbakti, hati kita akan menjadi nyaman dibuatnya. Penjelasan Bu Nyai Hanik selaras dengan statment para mufassir perihal ayat ini,
قال ابن عباس: يعنون من يعمل بالطاعة، فتقر به أعينهم في الدنيا والآخرة.
Sayyidina Ibnu Abbas Ra berkata, yakni pasangan dan putra-putri yang taat. Sehingga, senanglah mata (hati) dibuatnya.
وقال عكرمة: لم يريدوا بذلك صباحة ولا جمالا ولكن أرادوا أن يكونوا مطيعين.
Sayyiduna Ikrimah (asisten Ibnu Abbas) mengatakan, maksud doa ini bukan yang tampan atau cantik fisiknya, tetapi mereka yang taat kepada Tuhannya.
وقال الحسن البصري – وسئل عن هذه الآية – فقال : أن يري الله العبد المسلم من زوجته، ومن أخيه، ومن حميمه طاعة الله. لا والله ما شيء أقر لعين المسلم من أن يرى ولدا، أو ولد ولد، أو أخا، أو حميما مطيعا لله عز وجل.
Imam Hasan Al-Bashri ditanya perihal ayat ini, lalu beliau menjawab: makna doa ini adalah harapan agar seorang hamba melihat pasangannya, anaknya maupun saudaranya, mereka semua taat kepada Allah. “Demi Allah! Tiada hal yang lebih membahagiakan bagi seorang muslim, melebihi kebahagiaan melihat anak-cucunya, sahabat-temannya dalam keadaan taat kepada Allah.”
Refrensi:
تفسير ابن كثير – ت السلامة ٦/١٣٢ — ابن كثير (ت ٧٧٤)