Serangkaian acara pada Puncak Haflah Akhirussanah dan Wisuda angkatan ke-2 selanjutnya adalah sepatah kata dari perwakilan wali murid yang disampaikan oleh Bapak Suprapto S.Ag. Beliau menyampaikan rasa terima kasih banyak kepada keluarga besar Ponpes Aulia Cendekia Pekanbaru, mulai dari Pimpinan; Kiyai Masduki Fadly; S.Sos.I, Ummi, para Ustadz dan Ustadzah. Pak Suprapto berharap, ikatan yang ditali oleh keilmuan jangan sampai putus. Mewakili para wali santri, khususnya wali santri kelas 6, beliau meminta maaf jika ada kesalahan yang diperbuat oleh santri maupun wali santri. Beliau juga memohon, agar anak-anak mereka senantiasa disebut dalam doa-doa para guru di Ponpes Aulia Cendekia Pekanbaru.
“Kami sangat mengharapkan doa dari (keluarga besar) pondok ini… Mudah-mudahan jasa Bapak-Ibu guru terus mengalir hingga hari kiamat dan menjadi jalan kemudahan menuju surga.”

Berikutnya adalah lantunan Thalaal Badru yang dilantunkan oleh Tim Hadrah Sobat Ngopi guna menyambut kedatangan penceramah atau muballighah dalam acara ini; Ibu Nyai Hj. Hanik Maftukhah; Ketua Umum Jam’iyyah Perempuan Pengasuh Pesantren dan Mubalighah (JP3M).

Selanjutnya adalah ucapan terimakasih dan permohonan maaf kepada Pimpinan dan para guru serta pesan untuk teman seperjuangan yang diwakili oleh santri kelas 6; Ananda Muhammad Naufal Al-Hafiz Armansyah. Ia berpesan kepada teman-temannya,
“Dan untuk teman-temanku kelas 6, perpisahan ini bukanlah akhir dari perjalanan kita, namun ini adalah langkah awal dari perjalanan panjang kita untuk hidup di masa yang akan datang… Yang terpenting adalah lakukanlah yang terbaik! Karena hidup hanya sekali, hiduplah yang berarti!”

Tari Saman dari Sanggar Nurul Aulia menempati posisi acara selanjutnya. Suasana tepuk tangan yang meriah menyelimuti madrasah. Para hadirin terkesima melihat penampilan para santri yang lihai dalam tarian serta alunan musik yang mengalun membahana.






Ta’yidul Maharah (Tamara) Tahfidz Al-Qur’an, Al-Miftah lil Ulum, Aqidatul Awam dan Hadits Arba’in
Pada puncak acara Haflah Akhirussanah Ponpes Aulia Cendekia Pekanbaru (14/06/25), tersuguhkan uji kompetensi program-program unggulan dengan metode demontrasi, oleh santri Ponpes Aulia Cendekia Pekanbaru. Uji kompetensi ini disebut dengan Ta’yidul Maharah (Tamara). Program unggulan yang ditampilkan dalam acara Haflah ini bervariasi, mulai dari Tahfiz Al-Qur’an bil-ghaib (bimbingan Ust. Muhmmad Ali Al-Hafidz, Ust. Fikri Ibnu Haikal, dan Ummi Lisa Charina Al-Hafidzah), Al-Miftah lil Ulum (metode cepat membaca kitab kuning ala Pondok Pesantren Miftahul Ulum, Sidogiri, Pasuruan, Jatim, yang diampu oleh Ust. Kholilurrahman), Nadzam Aqidatul Awam (57 syair tentang pelajaran akidah 50 dan dasar lainnya karya Sayyid Marzuqi, yang diajarkan oleh Ust. Khoirun S.Sos) dan Hadits Arbain (42 hadits pilihan karya Imam An-Nawawi, dengan pengajar Ust. Irsyadul Muhtadi S.H.)

Untuk uji kompetensi Tahfiz, diawali oleh Ibu Nyai Rizqoh Hamdan (Pengasuh PP. Tahfidh Yanbu’ul Qur’an Al-Latif Lubuk Batu Jaya, Indragiri Hulu) lalu dilanjutkan dengan beberapa pertanyaan oleh mentor mereka.




Demi mengefesiensi waktu, program unggulan Al-Miftah lil Ulum hanya ditanya perihal Tasrif Istilahi dalam bab Tsulatsi Mujarrad (fiil-fiil yang terdiri dari tiga huruf tanpa huruf tambahan) oleh Kiyai Masduki Fadly. Dengan iringan alunan musik darbuka (membranofon kepala tunggal dengan piala berbentuk dandang paling sering digunakan dalam musik tradisional Mesir, juga marawis, di mana ia dianggap sebagai simbol nasional Musik Shaabi Mesir), santri menyanyikan beberapa wazan Tasrif dengan berbagai jenis lagu, sebagimana dibimbing oleh mentor mereka; Ust. Kholilurrahman.
“Bapak-Ibu, ilmu Tasrif atau Sharraf diperlukan oleh seseorang yang ingin memperdalam keilmuan seperti Al-Quran, tafsir dan kitab-kitab yang mu’tabarah lainnya.” Pungkas Kiyai Masduki Fadly pasca mendemonstrasi program unggulan Al-Miftah lil Ulum.
Adapun program unggulan Aqidatul Awam, Kiyai Masduki Fadly menyoal sesuai silabus yang disusun oleh Staf Khusus beliau, Bung Hasan Al-Bashri. Semua pertanyaan, mulai dari siapa pengarang kitab Aqidatul Awam, sifat yang wajib kepada Allah, jumlah para nabi secara komprehensif (124.000) maupun yang wajib diketahui (25), nama-nama putra-putri Rasulullah, secara keseluruhan dijawab dengan benar oleh para santri. Pasca itu, penampilan program unggulan ditutup dengan Tamara Hadits Arbain oleh santriwan & santriwati kelas 5; Ihsan Nasution dan Assyifa Syakbani.
Makna Syair Penyambutan yang Dibacakan Para Santri Program Aqidatul Awam
Sebagimana dalam pada Haflah Akhirussanah tahun lalu (08/06/25), Ta’yidul Maharah Haflah Akhirussanah Ponpes Aulia Cendekia Pekanbaru (14/06/25) juga menyajikan hal yang berbeda dengan penampilan program unggulan di pondok pesantren pada umumnya. Pasca membacaan bait-bait penutup Aqidatul Awam, para santri yang tampil demonstrasi membacakan beberapa bait syair dari bahar (metrum) rajaz, satu jenis dari 16 bahar yang ada dalam ilmu arudh.
مستفعلن مستفعلن مستفعلن# مستفعلن مستفعلن مستفعلن
Sebagimana tahun lalu, syair yang dibacakan para santri tidak disadur dari kitab atau dikutip dari ulama, namun merupakan karya salah satu guru di Ponpes Aulia Cendekia Pekanbaru. Pada Haflah Akhirussanah tahun lalu, syair para santri dinyanyikan dengan irama lagu “Pudar” (Rossa) dengan lirik:
وَشَيْخُنَا كِيَاهِيْ مَصْدُوْقِيْ فَضْلِيْ # أُسْتاَذُنَا خَيْرٌ خَلِيْلْ وَعَلِيْ
كَذَاكَ وِلْدَانْ إِيْدُوْ رَحْمٰنْ فِكْرِيْ # إِرْشَادُ المُهْتَدِيْ ثُمَّ حَسَنْ بَصْرِيْ
وَمَعْهَدُنَا أَوْلِيَا چَنْدَاكِيَا # عُنْواَنُهُ ڤَنَامْ رِياَوْ إِنْدُوْنِيْسِيَا
فَلِآبَاءِنَا وَأُمَّهاَتِنَا # تَمْكِيْنُ أَطْفاَلِ التَّعَلُمَّ هُنَا
Guru kami adalah Kiyai Masduki Fadly, Ust. Khoirun, Ust. Kholil, Ust. Ali, Ust. Wildan, Ust. Edo, Ust. Rahman, Ust. Fikri, Ust. Irsyadul Muhtadi dan Bung Hasan Al-Bashri.
Pondok pesantren kami adalah Ponpes Aulia Cendekia,yang beralamatkan Panam, Riau, Indonesia.
Kami mengajak bapak-bapak dan ibu-ibu, untuk memondokkan anak-anaknya di sini.
Pada pagelaran Haflah Akhirussanah & Wisuda angkatan ke-2, Bung Hasan Al-Bashri yang juga merupakan Anggota Tim Pakar LBM (Lembaga Bahtsul Masail), PWNU (Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama) Riau kembali menulis syair dengan tambahan satu bait dan beberapa modifikasi dari syair tahun sebelumnya. Syair ini dinyanyikan sebagimana irama lagu “Harga Diriku” (Wali Band):
بِبِسْمِ اللّٰهِ وَالْحَمْدِ عَلىَ اللّٰهِ # مُصَلِّياً عَلىَ النَّبِيْ وَآلِهٖ
إَناَّ طُلَّابُ أَوْلِيَا چَنْدَاكِيَا # فَإِنْ شَاءَ اللّٰهُ نُوْرُ إِنْدُوْنِيْسِيَا
مُدِيْرُنَا كِيَاهِيْ مَصْدُوْقِيْ فَضْلِيْ # تِلْمِيْذُ الشَّيْخِ مُدَّثِرٍ الْوَلِيّ
وَأُسْتاَذُناَ إِرْشَادُ إِيْدُوْ فِكْرِيْ # رَحْمٰنْ عَلِيْ خَيْرٌ خَلِيْلْ حَسَنْ بَصْرِيْ
أَهْلًا وَسَهْلًا لِلضُّيُوِفْ مَعْهَدَنَا # وَخَاصَةً ياَهِيْ هَانِئْ تُرْشِدُنَا
(Syair ini ditulis) dengan menyebut nama Allah dan memuji-Nya, sembari bershalawat kepada Baginda Nabi Muhammad dan keluarga beliau.
Kami adalah para santri Ponpes Aulia Cendekia Pekanbaru. In syaa Allah, di masa depan akan menjadi cahaya Indonesia.
Pimpinan pesantren kami adalah Kiyai Masduki Fadly S.Sos.I,
Murid dari waliyullah RKH. Muddatstsir Badruddin.
Nama ustadz-ustadz kami adalah Ust. Irsyad, Ust. Edo, Ust. Fikri, Ust. Rahman, Ust. Ali, Ust. Khoirun, Ust. Kholil dan Bung Hasan Al-Bashri.
Selamat datang kepada para tamu di pondok kita, khususnya kepada Nyai Hj. Hanik Maftukhah yang akan memberikan ceramah kepada kita.
Sejatinya, guru lulusan Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata, Pamekasan, Madura, Jawa Timur ini tidak ingin menjelaskan bahwa kedua syair tersebut adalah karyanya. Namun, ia sadar bahwa dirinya bukanlah orang alim sekelas Wakil Rais Aam PBNU; KH. Afifuddin Muhajir atau Wakil Ketua Umum PBNU; KH. Zulfa Mustofa. Tak seperti syair-syair karya kedua ulama yang berasal dari Jawa Timur tersebut, Bung Hasan Al-Bashri paham betul bahwa syairnya masih sangat jauh dari kata sempurna dan masih perlu banyak koreksi serta bimbingan dari para alim ulama yang mahir ilmu ‘Arudh (cabang ilmu dalam bahasa Arab yang mempelajari tentang aturan-aturan metrum atau wazan dan pola-pola bunyi dalam puisi (syair) bahasa Arab) dan Qawafi (bagian dari ilmu arudh dalam sastra Arab yang khusus mempelajari tentang rima atau keselarasan bunyi akhir pada setiap bait puisi atau syair). Oleh karenanya, besar harapan dia, jika di antara audiens di acara Haflah kemarin atau pembaca website ini menemukan kekurangan, untuk menyempurnakannya.
(Bersambung)