Refleksi Hari Raya Idul Adha 1446 H

June 6, 2025

|

Humas ACP

Hari Raya Idul Adha dengan segala sejarahnya. Nabi Ibrahim As dengan keridhaannya dan Nabi Ismail As dengan kesabarannya. Dan penyembelihan hewan kurban sebagai pernak-perniknya. Sudah banyak yang membahasnya, baik melalui lisan maupun tulisan. Namun, ada satu hal yang perlu kita lakukan refleksi bersama. Yaitu, tentang penyembelihan hewan kurban yang mulai kehilangan maknanya. Penyembelihan yang seharusnya menjadi ritual penyucian jiwa, kepedulian terhadap fakir-miskin, tak jarang menjadi adu gengsi. Tak sedikit, para mudhahhi (orang yang berkurban) justru salah niat. Bukan lagi sebagai qurban/ pendekatan diri kepada Tuhan, melainkan sebagai adu kegagahan. Terkadang pula, ada sebagian orang yang biasa berkurban, terpaksa berkurban meski dalam keadaan sulit karena merasa terbebani secara sosial. Oleh karena itu, penting kiranya kita buka khazanah-khazanah para ulama salaf shalih sebagai bentuk kritik dan kontrol terhadap kesalahan motif dan kesalahpahaman ini.

ومنه قصة الأضحية:
قال حذيفة بن أسيد:

«شهدت أبا بكر وعمر، وكانا لا يضحيان؛ مخافة أن يرى أنها واجبة».

Sahabat Hudzafah bin Usaid berkata, “Saya menyaksikan Abu Bakar dan Umar (pernah) tidak berkurban, karena khawatir ibadah kurban akan dianggap sebagai kewajiban (oleh kaum muslimin).”
وقال بلال: «لا أبالي أن أضحي بكبش أو بديك».

Sahabat Bilal bin Rabah berkata,

“Saya tidak peduli, entah berkurban domba atau ayam.”

قال أبو مسعود البدري:

«إني لأترك أضحيتي وإني لمن أيسركم؛ مخافة أن يظن الجيران أنها واجبة».

Abu Mas’ud Al-Badary berkata,

“Aku tidak berkurban dan sungguh (niatku) untuk memudahkan kalian. Saya khawatir, tetangga akan mengira bahwa kurban adalah suatu kewajiban.”
وقال طاوس:

«ما رأيت بيتا أكثر لحما وخبزا من بيت ابن عباس؛ يذبح وينحر كل يوم، ثم لا يذبح يوم العيد، وإنما كان يفعل ذلك؛ لئلا يظن الناس أنها واجبة، وكان إماما يُقتَدى به».

Imam Thawus bin Kaysan Al-Yamani berkata,

“Saya tidak melihat rumah yang lebih banyak daging dan roti (untuk disedekahkan) melebihi rumah Ibnu Abbas. Namun saat hari raya, beliau tidak berkurban. Beliau melakukan hal itu agar kurban disalahpahami sebagai kewajiban. Sedangkan posisi beliau adalah pemimpin yang dijadikan sebagai panutan.”
وقال أبو أيوب الأنصاري:

«كنا نضحي عن النساء وأهلينا، فلما تباهى الناس بذلك؛ تركناها».

Sahabat Abu Ayyub Al-Anshari berkata,

“Kami terbiasa berkurban untuk istri dan keluarga kita. Namun saat kurban dijadikan sebagai bangga-banggaan, kami tidak berkurban lagi.

قال الطرطوشي تعليقًا على ذلك:

انظروا – رحمكم الله – فإن القول في هذا الأثر كالقول فيما قبله؛ فإن لأهل الإسلام قولين في الأضحية:
أحدهما: سنة، والثاني: واجبة.
ثم اقتحم الصحابة ترك السنة؛ حذرًا أن يضع الناس الأمر على غير وجهه، فيعتقدونها فريضة.

قواعد معرفة البدع ١/‏٥٨ — محمد حسين الجيزاني (معاصر)

Imam Abu Bakar At-Thurthusyi berkata,

“Perhatikanlah (wahai kaum muslimin) rahimahullah. Bahwa kurban bagi kaum muslimin, berkurban terdapat dua versi: 1. Wajib 2. Sunnah.

Namun para sahabat meninggalkan sunnah, karena khawatir manusia menempatkan suatu sunnah bukan pada tempatnya, sehingga mereka meyakini perkara sunnah sebagai perkara yang wajib.”

Refrensi: Kitab Qawaid Ma’rifatil Bida’, juz, halaman 58, karya Syeikh Muhammad Hussein Al-Jizani (Ulama Kontemporer).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *