Sebagaimana menjadi rutinitas satuan pendidikan pada umumnya, setiap hari Senin, Madrasah Ibtidaiyah Pondok Pesantren Aulia Cendekia Pekanbaru mengadakan upacara bendera. Namun, upacara bendera yang terlaksana pada hari Senin 02 Juni 2025 melahirkan atmosfer yang berbeda.

Pasalnya, tepat pada 02 Juni 1897, lahir seorang pahlawan yang hampir terlupakan; Ibrahim Datuk Sutan Malaka atau yang lebih dikenal dengan nama Tan Malaka. Padahal, beliau termasuk konseptor utama berdirinya Republik ini. Saat para pendiri bangsa lainnya masih berfikir panjang dan berseteru satu sama lain perihal sistem pemerintahan negara ini, Tan Malaka memberikan kontribusi pemikiran dan gagasan revolusioner, bahkan sebelum bangsa ini berdiri. Jauh sebelum Republik Indonesia dirumuskan, Tan Malaka telah menulis buku yang berjudul “Naar de Republiek Indonesia” (Menuju Republik Indonesia), yang ditulis di Katon, Cina pada tahun 1925.
Pada momentum yang tepat inilah, di Halaman MI Aulia Cendikia Pekanbaru, pembina upacara; Ummi Maria Ulfa S.Pd. menyampaikan amanat penting yang saripatinya sealur dengan buah pikiran Tan Malaka.
Setidaknya, ada tiga amanat yang pembina sampaikan kepada para santri. Satu, siapkan mental dan fisik untuk menghadapi ujian. “Ujian bukan sesuatu yang perlu ditakuti, tetapi bukan pula sesuatu yang boleh diremehkan.” Ungkap Ummi Maria.
Beliau meminta, para santri mempersembahkan hal terbaik dari proses belajar yang dijalani selama ini. “Jaga kesehatan. Jangan begadang dan main game terus-terusan.” Ungkap wali kelas 1 B tersebut. “Bahwa benda itu adalah satu rantai, satu karma yang merantai hidup kita, hidup sengsara ini.” (Tan Malaka)

Amanat kedua, pembina meminta para santri untuk menjadi sosok yang jujur dan disiplin. “Jangan sampai nyontek atau melihat catatan.” Karena ujian bukan untuk mendapatkan nilai baik tapi dari hasil curang, melainkan persembahan terbaik dari hasil berjuang. “Sedangkan sebetulnya cara mendapatkan hasil itulah yang lebih penting daripada hasil sendiri.” (Tan Malaka).
Tan Malaka juga mengatakan, bahwa “berapapun cepatnya kebohongan itu, namun kebenaran akan mengejarnya juga“. Pembina juga meminta agar para santri harus benar-benar siap dalam menghadapi pelajaran maupun ujian. Bukan justru jam pelajaran sudah masuk, namun masih sibuk mencari pena, pensil dan sebagainya.
Selanjutnya pada amanat ketiga, guru lulusan UIN Suska Riau ini berpesan kepada para santri agar mereka memprioritaskan doa dan restu orang tua.
Beliau menyampaikan, “usaha tanpa doa adalah sia-sia.” Sebagai makhluk yang tiada daya dan upaya, tentu kita harus melibatkan Sang Pencipta dalam segala usaha. Pun seandainya ada usaha tanpa doa yang berhasil, niscaya hasil tersebut tidak barakah dan bahkan bukan termasuk nikmat, melainkan istidraj. Sehingga, velue doa tidak hanya sekedar bermakna sebagai sarana menjemput asa, melainkan sebagai suatu pengakuan kepada Sang Khalik bahwa secuil pun kita tidak memiliki kuasa. Dalam potongan syair Imam Abdullah Al-Haddad dikatakan,
قَدْ كَفَانِي عِْلمُ رَبِّي
مِنْ سُؤَالِي وَ اخْتِيَارِي
Cukuplah bagiku, bahwa Tuhan itu tahu
Terkait permintaanku dan ikhtiarku
فَدُعَائِي وَ ابْتِهَالِي
شَاهِدٌ لِي بِافْتِقَارِي
(Namun) Doa dan permohonanku
Adalah sebagai saksi terhadap kebutuhanku (kepada-Nya)
فَلِهَذَا السِّرِّ أَدْعُو
فِي يَسَارِي وَ عَسَارِي
Karena rahasia inilah, aku tetap berdoa
Baik di masa mudah, maupun tatkala sulit
Ada banyak sekali dalil tentang pentingnya berdoa, diantaranya adalah hadits berikut:
الدُّعَاءُ مُخُّ الْعِبَادَةِ.
“Doa adalah saripati (inti dari) ibadah.” (HR. Tirmidzi)
{لَيْسَ شَيْءٌ أَكْرَمَ عَلَى اللهِ تَعَالَى مِنَ الدُّعَاءِ}
“Tidak ada sesuatu pun yang lebih mulia di sisi Allah Ta’ala dari pada doa.” (HR. An-Nasai)
{الدُّعَاءُ سِلَاحُ الْمُؤْمِنِ وَعِمَادُ الدِّيْنِ وَنُوْرُ السَّمٰوَاتِ وَالْأَرْضِ}.
“Doa itu senjata orang mukmin, tiang agama, serta cahaya langit dan bumi.” (HR. Abi Ya’laa)

Selain doa, pembina juga mengamanatkan hal yang tak kalah penting, yaitu restu orang tua. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,
رِضَا اَللَّهِ فِي رِضَا اَلْوَالِدَيْنِ وَسَخَطُ اَللَّهِ فِي سَخَطِ اَلْوَالِدَيْنِ
(أَخْرَجَهُ اَلتِّرْمِذِيُّ, وَصَحَّحَهُ اِبْنُ حِبَّانَ وَالْحَاكِمُ)
Artinya:
“Ridha Allah berada pada ridha kedua orang tua. Sedangkan murka-Nya berada pada murka keduanya,” (HR At-Tirmidzi, Ibnu Hibban, dan Al-Hakim).
Amanat-amanat pembina ini penuh pengharapan agar para santri menjadi sosok tangguh yang berjuang dengan sungguh-sungguh tanpa lengah menghadapi tantangan, sesuai dengan adagium Tan Malaka, “Terbentur, terbentur, terbentuk”.